Fenomena daur hidup teknologi tidak berbeda dengan manusia,lahir,masuk masa pertumbuhan,berkembang hingga tahap dewasa dan akhirnya kembali tiada,
Layanan telephone seluler generasi kedua seperti GSM ,CDMA-IS95 dan D-AMPS IS -136 segera menyusul pendahulunya,telpone selluler generasi pertama 1G- (AMPS,TACS dan NTM),Masuk ke kotak sejarah,meski GSM sekarang masih berates juta pengguna di dunia namun sejatinya teknologi ini sudah memasuki masa senja, tinggal menunggu waktu saja untuk sepenuhnya digantikan oleh layanan selular generasi berikutmya,
Bagaimana nasib 2G??
Kelebihan dari 2G Terletak pada kestabilan dan kemampuan membawa pesan teks dan suara,secanggih apapun telpone,kebutuhan dasar yang harus dapat dilayani dengan baik adalah membawa pesan suara, 2G , khususnya GSM sangat prima dalam menjalankan fungsi ini.ketika radio panggil (pager) kehilangan pamornya sejak telpone seluler digital mampu digunakan untuk mengirim teks ,sekali lagi 2G menunjukan kelebihannya
Panglima SUN TZU berkata “keunggulan satu akan digantikan oleh keunggulan yang lain,demikian seterusnya” hingga 2G Terlihat Suloyo ketika harus membawa beban data dan pesan dalam format gambar berkecepatan tinggi, mengatasi kelemahan ini muncul sepupunya Teknologi Enhanced Data rates for GSM Evolution (EDGE) dan kemudian GPRS (General Packet Radio Service ),yang keduanya masih dianggap Podho wae..
Siapa pengganti 2G???
Telepon seluler yang diharapkan sebagai pengganti 2G atau dikenal dengan sebagai Telepone selluler generasi ke tiga (3G) sudah muncul sejak tahun 1998, Indonesia bahkan agak lambat dalam mengadopsi teknologi 3G ini. Ketika mulai diperkenalkan di eropa, 3G diposisikan sebagai layanan high end merupakan suatu teknologi Breakthrough dari kemapanan teknologi komunikasi Suara dan data yang sudah ada sebelumnya. Investasinya relative tinggi, harga spectrum ditetapkan sedemikaian mahalmya, dengan alas an 3G akan member Return yang sangat besar bagi investornya. Perburuan lisensi 3G sempat menghebohkan dunia bisnis telekomunikasi, mencatat rekor tertinggi dalam biaya perolehan lisensi, termasuk di Indonesia. Bagaimana sekarang posisi 3G?
Berjalan beriringan dengan 2G,di banyak Negara ,3G serasa masih kalah pamor dengan seniornya itu. 3G belum memperoleh momentum tepat untuk dapat take off, tinggal landas menenggelamkan 2G yang diperkuat EDGE dan GPRS. Sementara itu, bersamaan dengan mulai di perkenalkannya 3G , dunia telekomunikasi dan teknologi informasi sudah mulai mendengar dan berbincang tentang teknologi WiMAX yang dipersepsikan sebagai murah, berkualitas, reliable, dan tentu saja dapat melayani mobile-high speed-broadband sebagaimana kemampuan 3G. jika 2G masih dianggap menang menghadapi seranagan GPRS dan Wi-Fi, rasanya tidak demikian dengan 3G.Akankah 3G tetap Bertahan??
Key Success factor dan modal bisnis 3G
Ketika GSM baru Muncul dan digelar di Indonesia, banyak seloroh yang bernada merendahkan. GSM=GESER SEDIKIT MATI itu salah satunya.memang pada waktu pertama kali muncul,GSM juga masih dalam tahap infan. Selain itu ,karena masih baru jumlah BTSnya Pun relative Masih Sedikit , sehingga masih BANYAK Blank spot,bahkan layanan harus terhenti karena suatu kota atau daerah belum ada layanan GSM ketika sudah ada layanan GSM pun masih harus dibebani (roaming) yang cukup mahal. Perlahan namun pasti,GSM menjadi kekasih berpuluh juta penduduk Indonesia, bahkan banyak diantaranya yang memiliki lebih dari satu handset GSM.
Selain karena factor keberhasilan pemasaran dan keragaman handset serta kemampuan investasi untuk membangun semakin luas jaringan GSM ,kunci sukses keberhasilan GSM terletak pada kemampuannya membawa pesan suara secara mobile, pesan dalam format teks,fleksibilitas klasifikasi pelanggan (post dan prepaid), serta interkonetifitas antar operator GSM. Model bisnis GSM, masih dapat dilakukan dengan filosofi Topeng Monyet, Dimana semuanya dapat dilakukan sendiri dan dikendalikan oleh satu orang.
Strategi bisnis atau model bisnis yang berhasil sukses dalam suatu lingkungan bisnis tertentu tidak serta merta akan memberikan buah yang sama manisnya ketika diaplikasikan dalam konteks berbeda meski dilakukan oleh orang yang sama sekalipun. Ada strategic fit yang berbeda.konsep seperti ini berlaku pula bagi 3G.meski operator seluler yang sama sebelumnya telah sukses dengan 2G,namun tidak berarti ketika menggeluti 3G akan meraih sukses yang sama pula. Belum tentu sukses. Ada Chemistry yang berbeda antara 2G dan 3G,mengapa demikian ?
Jika yang ditonjolkan operator 3G hanya kemampuan mengirim suara dan teks saja?maka timbul pertanyaan,apa insentif bagi pengguna 2G untuk bermigrasi ke 3G, Bukan? Sudah Handset-nya lebih mahal, layanannya belum seluas 2G, dan tarifnya pun bisa jadi lebih mahal dari 2G. inilah krusialnya 3G memang tidak sekedar mengirim dan menerima suara dan teks, tetapi termasuk gambar , data semuanya dalam kecepatan tinggi.
Implikasi bisnisnya sungguh luar biasa,bila dalam layanan 2G, operator dapat memainkan semua peran, pemilik jaringan, pemasar, pelayanan pelanggan, dan lain sebagainya: dalam layanan 3G tidak bisa seperti itu.filosofi topeng monyet harus diubah menjadi filosofi pertunjukan srimulat, dimana ada penabuh gamelan, penari dan actor pemeran lakon , sutradara, pemilik panggung, penjual dan penyobek karcis dan lain sebagainya.
Masing –masing individu menjalankan tugas dan fungsinya untuk 1 tujuhan, agar pertunjukan srimulat berjalan dengan sukses. Dalam layanan 3G, operator sebaiknya hanya berperan sebagai pemilik panggung, yang memiliki jaringan telekomunikasi seluler 3G untuk dapat diisi para pemain ( penyedia konten) yang memiliki kedudukan sejajar dengan pemilik panggung. Panggung tanpa pemain sepi, pemain tanpa panggung tidak dapat mengaktualisasikan dirinya. Network 3 G Tanpa konten tidak aka nada trafik. Konten tanpa jaringan 3G, terseok-seok, bahkan Andra & The Backbone bilang Lenyap Ditelan Bumi.
Intinya,kunci sukses bisnis 3G adalah kemitraan. Operator 3G perlu menjalin dan membina hubungan bisnis berbasis kemitraan dengan penyedia konten, penyediaan perangkat jaringan, pemasok system billing dan software lainnya, serta tak kalah pentingnya adalah bermitra dengan operator 3G lainnya, agar terjalin interkoneksi yang member nilai tambah besar sekali bagi pelanggan mereka.
Kemitraan sejatinya memiliki nilai manfaat yang besar sekali. Selain dapat mengurangi resiko bisnis, kemitraan juga menimbulkan rasa memiliki bersama, sehingga ketika terjadi ancaman maka akan dianggap sebagai ancaman bagi eksistensi mereka semua
Potensi Teknilogi Lain Sebagai Ancaman Bagi 3G
Bagi Operator 3G, Munculnya WiMAX bisa jadi ambigu, disisi lain dapat menjadi subtitusi danm sekaligus pesaing, namun WiMAX dapat pula menjadi komplemen bagi jaringan dan layanan 3G. pendapat kedua, sebagai komplemen, tentu saja bila operator 3G juga diberi kesam,patan memiliki izin penggunaan WiMAX , ketika WiMAX mobile – yang konon akan memiliki spesifikasi sana seperti 3G – sudah tersedia di pasaran, hal ini akan menjadi ancaman serius bagi operator layanan 3G.
Betapa tidak. Dapat dipastikan harga bandset WiMAX akan lebih murah dari handset 3G, demikian pula investasi jaringan WiMAX jauh lebih kecil dari total Investasi yang dikeluarkan untuk membangun jaringan 3G. bilakah ini akan terjadi? Sangat mungkin dalam waktu dekat ini, namunbisa jadi juga, bila pemerintah cepat tanggap, dapat di tunda kejadiannya, agar investor 3G tidak merasa sakit hati, dengan cara menunda untuk sementara waktu diterbitkannya lisensi WiMAX. Tetapi Sampai Kapan??
Tidak ada patokan sampai kapan penundaan penerbitan lisensi WiMAX akan dilakukan. Terlau lama, tidak baik bagi masyarakat, yang sedianya dapat menikmati kemajuan teknologi, lebih murah lebih cepat, namun terlau cepatpun juga tidak baik bagi sedikitnya bagi lima operator 3G yang telah mengeluarkan sejumlah ratusan triliun rupiah untuk membangun jaringan 3G.
Lalu bagaimana mungkin dikatakan WiMAX dapat menjadi komplemen bagi jaringan 3G? WiMAX dapat digunakan sebagai jaringan tulang punggung (back bone) dan jaringan akses kepada pelanggan (last miles). Ancaman sebagai substitusi 3G terjadi ketika WiMAX yang digunakan Sebagai last milis, sedangkan sebagai komplemen muncul ketika WiMAX digunakan sebegai jaringan back bone.
3G Perlu dilindungi
Sebagai teknologi, 3G tidak perlu dilindungi, ia akan dibesarkan atau dikecilkan oleh mekanisme pasar teknologi yang semakin terbuka bagi pendatang baru. Bila 3G mampu membuktikan dirinya sebagai teknologi yang handal dan memenuhi kebutuhan pengguna telekomunikasi yang semakin hari semakin banyak tuntutannya, maka eksistensi teknologi 3G masih dapat bertahan beberapa tahun lagi sebelum akhirnya masuk ke tahap senja.
Dalam kaitan penyelenggaraan 3G, yang perlu dilindungi adalah investasi yangsudah dilakukan oleh operator 3G. perlindungan perlu untuk member kepastian berusaha dan skekaligus mengembalikan investasi yang telah ditanamkannya. Alasan lain mengapa investasi 3G oleh operator perlu dilindungi adalah juga karena sector telekomunikasi telah berhasil menjadi sector yang mampu menyumbang bagi peningkatan GNP, menyerap tenaga kerja langsung maupun tidak langsung dalam jumlah besar, menjadi pendukung bagi pergerakan roda perekonomian di seluruh wilayah negeri. Apabila investasi 3G yang semakin berkembang tumbang, sementara pasokan teknologi 2G oleh vendor semakin langka karena memang sudah tidak akan dibuat lagi, maka saat itulah akan terjadi bencana ekonomi telekomunikasi.
Satu hal, meski investasi jaringan dan layanan 3G dapat dilindungi dari digunakannya teknologi lain di suatu administrasi pemerintahan, namun kemunculan teknologi baru lainnya yang berpotensi menggantikan 3G tidak dapat dibendung.teknologi apa itu?
Dari OFDM Hingga 4G
Orang tidak cepat puas hanya dengan sajian suara,teks,data dan gambar saja. Mobilitas dan kompleksitas inoformasi menghendaki layanan mobile berkecepatan tinggi. Kebutuhan ini semakin meningkat seiring mulai makin banyaknya pengguna internet yang menghendaki akses ke internet secara mobile.GPRS dan 3G menjawab kebutuhan ini semua. Namun masih ada kekurangan dari keduanya, investasinya tergolong mahal. Apa gunanya teknologi kalo tidak bisa menjawab tuntutan efisiensi, layanan dengan harga yang lebih murah, demikian argument penggiat teknologi komunikasi data.
Tuntutan ini dijawab dengan munculnya teknologi telekomunikasi yang menggunakan Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) yang semula dimasukkan akan di gunakan sebagai komponen utama dalam intelligent Transportation System (ITS), yang akan mampu menyediakan komunikasi pita lebar berkecepatan tinggi (Broadband), termasuk realtime video security, video advertising and broadband wireless internet. Hasilnya sungguh seperti yang diharapkan, sebuah teknologi OFDM yang didukung oleh WiMAX perlahan ber-evolusi menjadi teknologi seluler generasi ke empat(4G).
Pada awal kemunculannya di tahun 2004, di Asia pasifik saja, 4G sudah diramal akan memiliki potensi bisnis mencapai $ 100 juta per-tahun. Hal ini cukup beralasan karena- pada waktu itu- dipercaya tidak akan lama lagi 4G akan menjadi mesin penggerak utama bagi layanan multimedia, e-Commerce, unified messaging dan peet-to-peer net-working , yang semuanya dilakukan secara mobile melalui jaringan nirkabel. Asia-Pasifik diyakini sebagai wilayah pasar yang sangat dinamis bagi komunikasi bergerak seluler generasi baru dengan rata-rata investasi per-tahun mencapai $50 milyar. Konvergensi akses nirkabel dan mobile seluler diyakini pertumbuhannya akan semakin cepat setelah 4G muncul.
Apa Janji Keunggulan 4G
Ada banyak keunggulan teknis 4G yang tidak dimiliki oleh teknologi generasi sebelumnya. 4G menggunakan Adaptive Modulation and Coding (AMC) untuk mengubah modulasi dan format peng-code-an (coding)agar selaras dengan variasi kondisi saluran telekomunikasi.
Dengan AMC terjadi peningkatan kemampuan untuk mengenali kondisi saluran (channel) yang didasari pada umpan balik dari pesawat penerima. Dengan demikian kondisi modulasi dapat terjadap pada kualitas pesan selalu dalam kondisi prima.AMC juga memungkinkan perbedaan data rate bagi pengguna yang berbeda tergantung pada kondisi saluran, kondisi dinamik seperti ini menjadikan sinyal bandwidth semakin efisien.
Keunggulan 4G lainnya yang dapat disajikan disini adalah Open Wireless Architecture (OWA) yang dimaksudkan untuk mengakomodasikan berbagai Platform yang berbeda. Sebagaimana diketahui, dalam jaringan 2G atau sebelumnya. Jaringan GSM tidak dapat digunakan bersama dengan jaringan CDMA, keduanya tidak dapat berbicara pada layer jaringan, namun hanya dapat berhubungan pada layer aplikasi.
Hal ini terjadi karena baik GSM maupun CDMA menggunakan protocol komunikasi yang berbeda dan satu sama lain tidak compatible. 4G menggunakan protocol komunikasi internet protocol (IP)sehingga antar-perangkat apapun dapat saling berantar-muka ( interfacing) sepanjang sama sama menggunakan protocol IP. Implikasinya luar biasa, komunikasi 4G tidak hanya antar- handset telepon untuk membawa pesan suara, teks dan gambar, tetapi dapat terjadi antara mesin seperti cash-register dengan dispenser, atau kulkas di rumah dengan mesin pemesan order di sebuah supermarket.
Selain keluasan dalam perangkat yang dapat digunakan untuk bertelekomunikasi, 4G juga menawarkan efisiensi penggunaan spectrum radio, melalui spectrum efficiency dan capacity enhancement. Efisiensi spectrum system broadband nirkabel dapat diperoleh dari sebuah sisitem yang memungkinkan terjadinya pengiriman secara simultan dalam sebuah sel, yang berdampak pada pengurangan biaya layanan jika dipasarkan untuk layanan broadband yang missal.
Sistem ini dimungkinkan juga karena menggunakan adaptive antenna yang mampu mengoptimalkan pemprosesan sinyal dan akhirnya memberikan koneksitas kepada pengguna dengan kecepatan tinggi dan reliable dengan insfrastruktur radio yang minimal.
Ide penggunaan adaptive antenna atau disebut juga smart antenna berasal dari pengamatan terhadap kemampuan telinga manusia menangkap suara ketika seseorang sedang berada disuatu ruang yang ramai, gaduh, banyak suara bertautan, namun telinga orang harus mampu membedakan mana suara yang hendak didengarnya, tidak semua suara yang masuk ke telinganya didengar.
Bila operator telekomunikasi, pengurangan kebutuhan spectrum berarti suatu penghematan pada belanja modal (capex) yang digunakan untuk membeli lisensi penggunaan spectrum. Sementara pengurangan kebutuhan infrastruktur akan meminimalkan belanja modal dan biaya operasi yang muncul dari BTS dan perangkat pendukung lainnya, yang kemudian di transformasikan kepada biaya per-pelangan dan biaya per- populasi yang di-cover oleh jaringan tersebut.
Perkiraan Prospek 4G
Masa depan 4G masih tanda tanya. Banyak factor yang mempengaruhi sukses gagalnya sebuah teknologi khususnya teknologi yang terkait dengan telekomunikasi dan teknologi informasi. Positioning 4G apakah sebagai teknologi dan layanan mahal atau murah akan mengawali segalanya. Jika diposisikan sebagai teknologi mahal, dan oleh karenanya biaya perolehan spectrum juga harus mahal, maka 4G akan menjadi teknologi yang implementasinya bersifat capital intensive. Hanya investor besar yang sanggup membeli teknologi ini. 4G akan menjadi komoditas ekslusif yang dikuasai oleh operator raksasa di tahun-tahun mendatang. Keberhasilan 4G oleh karenanya sangat ditentukan oleh intense dan kemampuan sedikit operator besar untuk memasarkan layanan ini. Jika alternative ini yang akan terjadi,menjadi tantangan bagi regulator telekomunikasi untuk memastikan bahwa layanan 4G dapat lebih murah dengan kualitas yang baik.
Sebaliknya, jika 4G diposisikan sebagai teknologi rakyat,dimana untuk mengakuisisinya tidak diperlukan biaya yang relative besar, biaya memperoleh spectrum-nyapun menjadi rendah, bahkan bila menempati ISM band bisa gratis, meski dengan Quality of service yang tidak terjamin, maka keberhasilan 4G akan ditentukan oleh gerakan massive para penggiat telekomunikasi dan internet yang sebagian besar tergolong pengusaha golongan kecil menengah. Apalagi bila untuk menggunakan teknologi 4G tidak perlu izin khusus seperti ketika akan menyelenggarakan layanan 2G dan 3G. jika pilihan ini yang diambil, maka akan dibutuhkan regulator yang sangat berkopenten dan kuat, karena dengan pembebasan penggunaan 4G bisa jadi resiko terjadi Chaos akan semakin besar. Wal hasil bukan manfaat tetapi mudharat yang di petik.